Rabu, 11 Februari 2015

Contoh Puisi Tema Religi (Islami)

Maaf ya, udah lama banget zulfa ngga posting lagi..
maklum, alhamdulillah sekarang udah punya kesibukan kuliah..
dan emang lumayan sibuknya, maklum kuliah anak teknik..
mungkin yang bisa saya posting saat ini hanyalah sebuah contoh puisi, yang isinya bisa dimaksudkan persuasif atau mengajak ataupun mempengaruhi.. lebih tepatnya dalam hal bertemakan islami..
langsung saja..

"Kehidupan"
Ketika engkau lelah..
Keluh kesah dan kekesalan merasuki hatimu, dan kau hampir menyerah
Kau teteskan keringat, tak peduli sebanyak apapun
Berharap kehidupanmu, bagai bunga layu yang berubah mekar
berharap kehidupanmu, lebih bersinar
Dan kau lupa waktu..
Jam terus berdetik, engkau hiraukan
Namun sampai kapan?

Kau tertidur pulas malam ini
Fikiran dan ragamu amat tersipu
Mimpi indah menghiasi matamu yang terpejam
Hingga akhirnya mentari bersinar kembali
Dan kau lalui harimu, dengan keluhan yang masih melekat erat di hatimu
Kau kembali berjuang, mati-matian
Hingga kantung matamu tampak, hingga ragamu pegal
Hingga kepalamu berputar, dan kau hampir terjatuh

Kau kembali kelelahan
Kau kembali menghiraukan Detik jam yang terus berputar
Matamu yang berkilau, menampakkan kesedihan
Menanggung baja kehidupan yang padat, amat berat..
Dan kau memaksakan matamu itu
Mengejar target, hingga malam hampir berubah menjadi dini hari
Kau baru terpejam kembali, tertidur singkat
Sadarkah waktumu kau habiskan begitu saja?
Kesibukan telah mencekam hatimu
Hingga kau kembali membuka matamu, saat mentari hampir terlihat kembali

Namun tidakkah engkau mencoba?
Bukalah mata indahmu itu, sebelum mentari tampak
di saat orang lain tertidur lelap
setidaknya cobalah untuk merenung
Lihatlah langit di malam hari itu
tuhanMu sedang berada di sana
Tidakkah kau rindu padaNya?
Tidakkah kau takut padaNya, dengan keadaanmu yg seperti ini?
Dalam gelap, setidaknya cobalah membayangkan
Akan ada tempat singgah yg lebih gelap lagi
ruang hampa yang suatu hari akan engkau tempati
Di saat matamu tak bisa bersinar kembali
Di saat bulatan kapas menutupi kedua lubang hidungmu
Di saat kain putih bersih membungkus ragamu
Kau sendirian, terbaring kaku terkubur dalam tanah
Apakah kau siap? Pertanggungjawabkan waktu di hidupmu?
Bagaimana jadinya?
Bila ruhmu terpisah dalam tubuhmu, dan kau dalam keadaan jauh dariNya
Kau mungkin sedang melupakannya.
Tidakkah kau sombong? Kau mungkin akan menangis darah
Namun Allah tak peduli, semua telah terlambat..

Dan saat itu, kau teteskan air mata bening di pipimu
Cobalah untuk beranjak, basuh wajah halusmu itu
Dengan air wudlu yang suci
Bersama kegelapan, bersujudlah padaNya
masih ada kesempatan..
Dan ketika kau merasa, kelelahan hidup menusuk jiwamu
Maka mengeluhlah padaNya..
Menangislah padaNya dan mintalah padaNya..
Berdo'alah, apapun mimpi-mimpimu
Hingga pada waktunya, hatimu akan merasa tenang..
Rasakanlah, bahwa Allah berada tepat didekatmu, memelukmu dengan rahmatNya
percayalah akan pertolonganNya
Suatu hari kau akan merasakan, kecukupan hidup
Kerelaan hati untuk melangkah di jalan yg harus engkau tempuh
Kau akan mengerti, hidup bukanlah sukses
Hanya di alam yang fana ini saja
tapi hidupmu, adalah beribadah
Hidupmu, adalah ladang untuk menumbuhkan benih-benih keimanan
Yang akhirnya akan berbuah kebahagiaan di akhirat nanti
Insya Allah..
Teruslah berusaha dan berdoa..
Utamakan ibadahmu, niati karena Allah..
sungguh, kehidupan ini hanyalah setetes air yang menempel di jarimu
Saat kau memasukkannya pada hamparan lautan dunia yang begitu luas..
lalu kau tahu apakah perumpamaan laut itu?
Itulah kehidupan akhirat..

Di waktu sepertiga malam yang akhir itu..
Allah menunggu hamba-hambaNya di langit ke tujuh..
Maka bukalah matamu, basuhlah wajahmu, dan bersujudlah..
Dan kau akan rasakan, indah dan nikmatnya keimanan
Tepat di dalam lubuk hatimu..

zulfa fadila

tulisan ini, semoga dapat tertulis dalam hati saya sendiri pada khususnya, dan juga dalam hati para pembaca pada umumnya..
semoga bermanfaat, barakah..

Sabtu, 08 Maret 2014

CONTOH CERPEN

Hanya Tuhan yang Mencintaiku
            “Aku suka kamu. Mau ga jadi pacar aku?”, ucap Rendy
            “Maaf ya. Aku ga bisa”. Rini sepertinya ragu dengan kesungguhan Rendy.
            “Kenapa?” jawab Rendy, murung.
            “Ga apa-apa sih. Ga cocok aja. Udah dulu ya aku ada perlu”. Rini pergi meninggalkan Rendy. Rendy hanya terdiam. Itulah tolakan yang ke-24 perempuan ke-24 yang telah ia tembak dari sejak kelas IX SMP hingga saat ini. Dia kini bekerja sebagai tukang ojeg. Dia di drop out oleh SMA karena tidak bisa membayar SPP.
            Kehidupannya amat jauh berbeda dengan khalayak biasanya. Kedua orang tuanya telah meninggal. Kedua orang tuanya adalah anak tunggal. Nenek dan kakeknyanya tentu telah lama meninggal dunia sebelum orang tuanya. Dia hidup sendiri sejak ayahnya meninggal karena kecelakaan saat dia sedang duduk di kelas X SMA. Ibunya telah meninggalkannya saat dia masih bayi, saat melahirkannya. Dia tinggal di sebuah rumah kecil. Prestasinya tidak begitu baik di kelas, kalaulah prestasinya baik, dia pasti bisa meneruskan SMA nya sampai lulus dan bahkan bisa meneruskan kuliah. Namun mungkin itulah takdir hidupnya.
            Setiap hari yang dia lakukan adalah menarik ojek. Uangnya dia gunakan untuk mabuk-mabukan di malam hari dibarengi dengan permainan judi. Hampir setiap malam dia seperti itu. Beberapa tahun kegiatan itu dia kerjakan.
            “Bro, minta minum lagi dong!”, ucap Rendy.
            “Yah, lo bisanya cuman minta. Beli dong!” jawab Jono.
            “Gue gapunya duit. Gue kalah judi mulu. Cepet minta, gue ga kuat, Bro!”, Rendy pun mengambil minuman itu secara paksa.
            “Woy, punya gue sedikit lagi”, teriak Jono. Dia sepertinya emosi. Rendi malah terus meminum minumannya. Jono semakin kesal, dalam keadaan mabuk dia menghajar Rendy. Rendy pun sama, mereka dalam keadaan mabuk, tentu terjadi perkelahian yang sulit dilerai. Namun pada akhirnya, Rendy kabur karena Jono membawa senjata tajam.
            Rendy berlari entah kemana. Saat itu sudah sangat larut malam. Tanpa dia sadar, dia menaiki sebuah mobil truk. Mungkin karena mabuk berat, dia tak menyadari itu sama sekali. Diapun dibawa oleh truk itu entah sampai dimana. Barulah dia menyadari setelah siang hari. Truk telah tiba di sebuah perkampungan. Dia terbangun lalu membuka matanya. Di depannya berdiri seorang wanita berhijab hijau daun, terlihat khawatir.
            “Heh, siapa kamu? Dimana saya?” ucap Rendy terkejut
            “Kamu yang siapa. Kenapa ada di truk bapak saya?” ucap perempuan itu.
            “Di dalam truk? Siapa yang di dalam truk?” tanya Rendy.
            “Ya kamulah!” sentak perempuan tadi.
            “Yah, biasa aja juga, Neng. Gausah nyentak”, ucap Rendi.
            “Habisnya kamu itu aneh. Kamu habis mabuk ya? Bau minuman keras!”, serongot perempuan itu.
            “Hehe, iya Neng”, ucap Rendy tertawa kecil.
            “Malah ketawa. Udah sana pergi. Pulang ke rumahmu!” teriak perempuan berhijab hijau daun itu.
            “Yah, Neng. Aku ga tau ini dimana. Bisa anterin ga?”, ucap Rendi tertawa kecil lagi. Tampaknya perempuan tadi merasa lebih kesal lagi.
            “Enaaak aja! Pulang aja sendiri”, teriaknya. Diapun pergi meninggalkan Rendy.
            Rendy bingung harus melakukan apa. Dia hanya berjalan menelusuri perkampungan itu. Hingga malam hari yang sunyi, dia masih berjalan. Diapun tertidur di sebuah pos kamling. Saat itu hujan turun dengan begitu derasnya. Nampaknya Rendy sakit, dia tidak minum malam ini dan mungkin itulah yang membuatnya kesakitan. Dia telah kecanduan berat dengan minuman kerasnya.
            “Astagfirullohal’adzim. Bangun hey. Yah kayaknya kamu sakit”, ucap perempuan yang tadi siang Rendy temui.
            “Eh ada Neng. Ga apa-apa kok Neng. Malem-malem gini kok masih di luar rumah”, ucap Rendy sambil berbaring kesakitan.
            “Udahlah ayo iku aku. Masih kuat berjalan kan?” ucap perempuan itu.
            “Mm lumayan lah Neng. Eh iya Neng namanya siapa?” tanya Rendy lemas.
            “Panggil aja Viny, udahlah ayo gausah banyak bicara. Ikut aku”. Viny pun membawa Rendy dengan begitu susah payahnya. Hingga tibalah mereka di sebuah pesantren.
            “Kamu tinggal di sini saja. Pesantren ini milik ayah saya. Kamu bisa jadi santri di sini untuk beberapa waktu”. ucap Viny.
            Sejak saat itulah Rendy tinggal di pesantren. Dia mendapatkan banyak ilmu di sana. Walaupun sebelumnya dia selalu saja di ejek oleh teman-temannya karena dia pecandu narkoba dan suka minum-minuman keras. Terkadang kecanduan itu muncul ketika Rendy sedang mengaji. Tentulah teman-teman Rendy menjadi tahu bahwa rendi adalah seorang pecandu.
            Di sisi lain, Viny bersikap baik kepada Rendy. Hampir setiap pagi dia memasakkan sarapan pagi untuk Rendy. Tentulah Rendy lama-lama merasakan kenyamanan bisa dekat dengan Viny. Dialah salah satu penolong di hidupnya. Sejak saat Viny membawanya ke pesantren, Rendy menjadi lebih mengenal ilmu agama. Dia semakin bisa merasa dekat kepada Sang Pencipta.
            Hari berganti hari, suasana perkampungan yang begitu statis namun menyejukan terus Rendy rasakan di pesantren. Dia kini telah berada di jalan yang benar. Rendy menjadi lelaki yang soleh. Namun warga sekitar dan para teman-temannya masih saja menjauhi Rendy karena terkadang rasa kecanduan Rendy selalu saja muncul. Ini dikarenakan Rendy amat telah menjadi pecandu berat bahkan hingga paranoid. Walaupun begitu, Rendy tak peduli dengan sikap orang-orang di sekitarnya. Yang penting dia bisa menjadi orang yang pantas dihargai di mata Allah.
            “Ini saya bawakan kembali sarapannya”, ucap Viny. Tepat di depan mesjid Rendy berdiri. Dia baru saja selesai mengerjakan shalat duha.
            “Makasih ya, Viny”
            “Iya sama-sama”
            “Ngomong-ngomong, sejakbeberapa bulan yang lalu, kau selalu saja membawakanku sarapan pagi. Memangnya mengapa kau melakukan itu. Kau kan tahu bahwa orang-orang di sekitar ini tidak begitu senang dengan keberadaanku.” ucap Rendy.
            “Justru itu, aku tak begitu suka dengan sikap mereka yang membedakan orang lain. Semoga saja mereka sadar ketika melihatku selalu bersikap baik padamu”, jelas Viny.
            “Kamu itu berhati baik ya. Terima kasih ya Viny”
            “Tak usah berterima kasih. Tentu ini yang harus saya lakukan” ucap Viny.
            Rendy terdiam. Hati kecilnya ingin mengatakan sesuatu. “Viny...”
            “Ya?” jawab Viny.
            “Aku mencintaimu” ucap Rendy, to the point.
            “Ga lucu deh” ucap Viny sambil tertawa.
            “Aku serius Viny. Maukah kau menjadi istrku?”, Rendy memegang tangan Viny.
            “Maaf bukan muhrim, Rendy”, ucap Viny. Rendi pun mengucap istigfar lalu melepas tangan Viny.
            “Maaf, tapi aku tidak mencintaimu”, ucap Viny dengan wajah cemberut.
            “Baiklah Viny. Tak apa,baguslah kalau kau jujur. Maaf ya aku mau membereskan mesjid”, ucap Rendy sambil tersenyum, walaupun di dalam hatinya dia amat merasa sakit.
            Viny hanya terdiam. Dia tak tahu harus berkata apa. Dia pun bingung, dia merasa tak enak hati kepada Rendy. Sejak saat itu, Viny tak pernah lagi membawa sarapan pagi untuk Rendy. Rendy masih selalu tak dihargai oleh warga sekitarnya.
            Saat shalat tahajud, Rendy berdo’a.
            Ya Allah. Ampunilai segala dosa-dosa hamba ini. Hamba tahu hamba sunguuh dilumuri oleh kotornya dosa. Tapi saya mohon Ya Allah, mengapa kehidupan saya seperti ini? Ampunilai dosaku Ya Allah. Jika memang semua ini adalah ganjaran atas segala dosa-dosa yang telah aku lakukan, aku akan terima Ya Allah”
            Malam itu, Rendy amat merasakan kesakitan. Paranoidnya semakin menjadi-jadi lagi, dia amat telah kecanduan. Rasa sakitnya sudah tak bisa dia tahan lagi. Di malam yang sunyi itu, dalam sujudnya dia meneteskan air mata. Sambil tersenyum, di dalam hati dia berkata. “Tak apalah, Ya Allah. Bila dalam kehidupan yang fana ini saya tak mendapat cinta yang kebanyakan orang dapat. Saya hanya bersyukur atas segala cinta yang telah Kau berikan pada saya. Aku harap, malam ini aku bisa bertemu denganMu. Satu-satunya Zat yang telah menungguku dengan cinta yang luar biasa”
            Mungkin seperti itulah takdir kehidupan Rendy. Malam itu, malam terakhir kehidupannya. Setelah apa yang telah dia alami, dalam keadaan membujur kaku, dia masih dapat tersenyum. Tersenyum akan cinta sejati yang telah menghiasi detik-detik terakhir kehidupannya, cinta dari Sang Pencipta, Allah Subhanahuwata’ala.
           

CONTOH CERPEN "Tak Ada Cinta, Namun Kurindu" karya Zulfa Fadila



            Pagi ini terlihat mendung. Hujan mengguyur tanah kota ini, tampak warna-warni pemandangan dari siswa-siswi yang masuk ke sekolah. Mereka memakai jaket, ada yang memakai jas hujan, namun yang paling aneh, tak ada yang memakai payung. Mungkin tidak biasa bagi anak seusia kami memakai payung, mereka sepertinya lebih memilih basah kuyub daripada membawa payung, termasuk saya.
            Bel berbunyi, gerbang sebentar lagi akan melangkah menghalangi para siswa yang akan masuk. Mereka berlarian sebelum itu terjadi, sayapun sama. Hari ini saya kesiangan. Biasanya dia pun kesiangan, teman sekelasku. Namun hari ini dia masih tidak nampak, sudah hari ke-5 dia tak hadir di sekolah.
Biasanya, bila kududuk di ujung bangku ini, aku bisa melihat raut wajahnya yang begitu serius dan semangat belajar, kecuali untuk hari kelima ini. Dia sepertinya selalu memandangku. Guru sedang menerangkan di depan, dia memandang ke arah guru. Namun ketika guru berjalan ke belakang, dia malah seperti memandang ke arahku. Aku tahu dia memang memandangku dengan berbeda. Itulah dia Fera, bukan orang yang spesial juga bagiku. Namun baginya, mungkin aku orang yang amat spesial. Sepertinya dia sakit, lima hari sebelumnya aku melihat wajahnya terlihat amat pucat. Aku tak bertanya apapun padanya, diapun sama. memang yang kami lakukan setiap harinya hanya saling bertemu, kemudian tersenyum. Hanya itu mungkin.
            Terkadang saat melihat wajahnya, sepertinya ada iba yang sulit dijelaskan. Mengapa aku merasa tak enak hati bila melihat bangku kosong yang seharusnya dia tempati. Aku tahu dia sakit, namun kami sekelas belum sempat menjenguknya, minggu ini full pemadatan untuk persiapan UN. Lelah juga sebenarnya. Namun apa boleh buat. Aku jalani saja, biarkan air mengalir. Terkadang sebelum tidur, kulepaskan kelelahanku dengan berbaring, smsan dengan orang yang kusayangi, sambil menunggu balasan, aku terdiam melamun.
            Fera berdiri, kemudian duduk kembali. Dia seperti kebingungan. Kemudian dia berdiri kembali, melangkah ke arahku sambil membawa kertas folio yang penuh dengan tulisan.
            “Ini”, dia tersenyum. “Terima kasih ya”, jawabku dengan senyuman kembali. Dia sepertinya merasa tak biasa bila berada di depanku, sepertinya. Dia hanya membalas senyumanku, kemudian langsung kembali ke bangkunya. Sepertinya dia telah berusaha keras untuk menyelesaikan tugasku tadi malam. Tugas yang amat menumpuk, melambai-lambai butuh perhatianku, namun malah diperhatikan oleh Fera. Aku sebenarnya tak ingin membebaninya, namun sepertinya dia bersikeras, memaksaku untuk memberikan tugasku kepadanya saja.
            Aku tak tahu sebesar apa perasaan kagumnnya  kepadaku. Sepertinya setengah mati dia menyayangiku, namun setengah hati pun tak kuberikan padanya. Dia orang yang lembut. Namun aku tahu, aku tak mencintainya. Tapi terkadang aku memberikan harapan padanya.
            Tak banyak yang kami lakukan bersama. Mungkin yang paling sering adalah bernyanyi bersama. Suaranya biasa saja, namun cukup khas juga. Aku dapat merasakan kebahagiannya ketika bisa dekat denganku, namun akupun bisa merasakan kesedihannya ketika aku dekat dengan kekasihku. Pernah suatu hari dia tak ingin melihat wajahku sama sekali.
            “Kenapa?”, tanyaku.
            “Ga apa-apa, maaf kalau saya banyak salah =’D”
            “Tiada yang salah, hanya aku manusia bodoh”.
            “Aku yang salah, kalaulah...”
            “Kalaulah apa? Sudahlah jangan fikirkan apa-apa.”
            Dia hanya terdiam sunyi, tak menjawab apapun.
            “Sudahlah. Cape banget aku ngeliat Kamu kaya gitu!” aku seperti marah padanya.
            “Maaf ya, aku akan coba melupakanmu lagi. Semoga bisa ya =’)”
            “Mau kaya gitu aja? Emang harus sampai kaya gitu ya? Emang ga bisa gitu kalau cuman deket?” ucapku sepertinya sedikit emosi juga.
            “Melihatmu adalah sebuah luka =’) Maaf ya”
            “Maaf untuk apa? sudahlah, ga ada yang salah. Biasa aja! Never give up !”
            “Iya;)”
            Hanya itu balasan darinya, tak ada yang tahu kenyataan hatinya seperti apa, namun dia memang tertutup. Sepertinya dia amat sakit hati, berhari-hari dia tampak muram. Aku hanya iba padanya, memberi harapan padanya. Padahal aku tak mencintainya, lagipula aku telah lama memiliki kekasih yang lain. Bahkan setelah putus dengan pacarku itu, aku berhasil move on, namun bukan padanya. Sejak saat itu, dia sepertinya lebih memilih untuk tidak mengenalku.
            Yang bisa aku berikan padanya hanyalah petikan nada alat musik untuk mengiringinya dalam menyanyi. Namun aku yakin, dengan itu saja dia bisa bahagia. Kebahagiaan yang berbeda dengan yang lainnya. Aku tak tahu pasti apa yang dia rasakan, namun dia pernah berkata bahwa dia amat menyayangiku. Akupun sama, tapi cukup berbeda. Aku berkata itu bukan karena kenyataannya seperti itu, tapi karena aku menganggap bahwa kata-kata itu dapat membuatnya bahagia.
            “Dika, cepatlah kamu harus ikut” ucap Rianty dengan begitu memaksanya. Aku meninggalkannya begitu saja, aku saat ini ada janji dengan pacarku. Sambil berjalan, akupun berkata.
            “Tapi aku ada perlu”, ucapanku langsung dipotong oleh Winni.
            “Fera sekarang kritis. Mau kau biarkan begitu saja”, dia berkata sambil menangis.
            Semua siswa di kelas terdiam.
            “Kritis bagaimana?” tanya Ferdi dengan begitu khawatirnya. Winni dan Rianty adalah teman Fera yang paling dekat. Siswa kelas mengerti, pasti ada yang sedang mereka sembunyikan tentang Fera. Maklumlah, Fera orang yang cukup aktif di berbagai kegiatan di sekolah, namun dia amat tertutup bila menyangkut dengan hal-hal pribadinya.
            “Sebenernya ...” ucap Winni. “Sstt, sudahlah Winni. Jika memang dia tak mau tak apa”. Aku tak begitu mendengar jelas apa yang mereka katakan, aku meneruskan langkahku. Ucapan Rianty dipotong oleh Winny. “Mau sampai kapan?! Sampai Fera pergi meninggalkan  kita? Katakan saja! Aku tak kuat bila harus mengatakannya secara langsung” bentak Winny dengan air matanya menetes, tepat di depan mata Rianty.
            “Maaf Winny. Baiklah sebenarnya begini semuanya. Fera sedang sakit parah di rumah sakit, kemungkinan nyawanya tak tertolong.” ucap Rianty.
            “Dikaaaaaaaaa!” teriak  Winni. Aku tahu sekali watak Rinni, dia jarang marah. Baru sekali ini aku mendengar teriakannya yang seperti langit bergemuruh. Akupun menoleh.
            “Kamu tahu kan yang telah dilakukan Fera. Kamu tahu kan perasaannya?! Dan semua siswa kelas ini pun pasti tahu. Dia korbanmu! Tapi dia terlihat sabar kan!” teriak Winny seperti kesal.
            “Maksudnya apa sih?! Jelas dong kalo ngomong!” jawabku dengan emosi juga. Aku merasa tak enak bila dia berkata tak jelas seperti itu sambil menyentakku.Aku melangkah kembali meninggalkan kelas. Pacarku sepertinya telah menunggu cukup lama. Aku harus segera pergi.
            “Fera di ujung kematiannya! Kamu mau pergi, silakan! Semoga ini menjadi hal yang paling menyakitkan hati Fera, untuk yang terakhir kalinya” teriak anak kelas yang lain, aku tak tahu dia siapa tapi terdengar seperti suara seorang lelaki.
            Aku meneruskan langkahku. Aku pun mengerti apa yang mereka katakan. Aku terus berjalan. Aku berfikir bahwa mereka bercanda, berbohong agar aku tidak kabur dan bisa kerja kelompok dengan mereka. Maklum saat itu pekerjaan kelompok masih banyak sekali yang belum selesai.
            Aku sedang asik bersama pacarku. Handphoneku bergetar, telepon dari Fera. Tumben dia menelopon kembali. Sudah lama sekali dia tidak menghubungiku. Telepon yang pertama tak kuangkat, lagipula biasanya bila dia menelopon, dia hanya ingin mendengar aku mengucapkan sesuatu, setelah itu dia menutup teleponnya. Kedua kalinya dia menelepon kembali.
            “Angkat dulu telepon dari siapa sih?”
            “Iya, Yang. Bentar ya diangkat dulu”, ucapku.
            “Dika”, ucap Fera dengan suara yang sedikit berbeda.
            “Apa Fera?”
            “Bisa kesini ga. Bentar aja.”
            “Kemana?”
            “Entar di smsin. Mau ya kesini?”
            “Emang ada apa Fera?”
            “Ga ada apa-apa. Please kesini ya. Aku ga bakalan minta apapun ko. Ga bakalan minta kamu mainin gitar, atau ngobrol berdua denganku, atau ngucapin ultah buatku, atau apa deh dari semua yang pernah aku minta”
            “Mmm, insya Allah aja ya”
            “Yaudah deh, ga juga ga apa-apa sih. Takut ngerepotin”.
            “Maaf ya”
            “Iya ga apa-apa”
            “Kalau gitu udah dulu ya. Assalamu’alaikum”
            “Waalaikumsalam”, jawabku. Fera tidak langsung menutup teleponnya beberapa detik, akupun sama. Terdengar jeritan yang menyakitkan. Aku kaget dan berbicara kembali pada Fera, namun teleponnya telah ditutup.
            Kulihat handphoneku, ada pesan. Pesan itu datang saat Fera menelepon. Ternyata sms dari Fera. Aku tak sempat membukanya.
            “Telepon dari siapa, Yang?”
            “Bukan siapa-siapa. Udah deh mending lanjutin lagi nyanyi ya” ucapku.
            “Hmmm okey”.
            Sekitar satu jam aku dan pacarku bernyanyi bersama. Aku pulang ke rumah sekitar setelah adzan ashar. Aku lupa belum membaca pesan dari Fera. Saat sampai di rumah akupun membaca isi pesan itu.
            Rumah sakit umum dr. Jaya, ruang UGD lantai 2. Aku tunggu ya, Dika. #Fera =)
            Aku terkejut melihat pesan itu. Aku teringat akan kata-kata Winni dan Rianty tadi siang. Sepertinya apa yang mereka katakan benar. Sore itu hujan besar, kilat dan halilintar datang bergantian. Aku tak peduli sebesar apa hujan saat itu. Aku lekas memakai helm merahku, aku bahkan lupa tak memakai jaket apalagi jas hujan. 15 km jarak dari rumah hingga rumah sakit aku tak peduli. Aku teringat akan hal-hal yang pernah aku lakukan padanya, dan apa yang telah dia lakukan untukku. Perlakuan yang sungguh bertolak belakang sebenarnya.
            Sekitar petang menuju magrib aku tiba di sana. Di depan UGD berdiri seseorang berhijab merah muda. Ya itu Fera. Aku berlari ke arahnya sambil menangis.
            “Kamu sakit parah?!” tanyaku dengan begitu khawatirnya.
            “Engga, siapa bilang. Aku baik-baik aja ko”. jawabnya sambil tersenyum.
            “Syukurlah. Kata anak-anak kamu sedang kritis di rumah sakit”
            “Mm tak usah dengarkan mereka. Usap itu air mata. Kenapa coba harus nangis. Baru kali ini kulihat kamu menangis di depanku” ucap Fera dengan senyum yang membahagiakan.
            “Yah kamu itu. Ga kok, aku ga nangis. Mmm tapi sempet nagis sih. Khawatir sama kamu.”
            “Ternyata kamu bisa khawatir juga ya padaku. Makasih ya”. jawab Fera.
            “Mm iyalaaah. Masa iya aku biasa aja kalau kamu sakit parah”.
            “Udah deh, gausah ngasih harapan lagi. Lagipula aku ga apa-apa, aku sehat.” ucapnya sambil tertawa.
            “Engga! Ini asli”, teriakku dengan sedikit kesal.
            “Iya deh, percaya. Maaf ya”, ucap Fera.
            “Maaf untuk apa sih? Udahlah jangan mikirin yang aneh-aneh mulu”.
            “Maaf karna belum bisa lupa sama Dika”, ucapnya. Matanya sedikit berkaca-kaca. Airmatanya jatuh bersamaan dengan menetesnya air hujan di atas atap rumah sakit.
            “Kamu kenapa Fera?”. ucapku khawatir. Dia hanya tersenyum kemudian pingsan. Aku memeluknya. Tiba-tiba datang teman-teman sekelasku bersama orang tua Fera.
            “Astagfirulloh, dari tadi kami mencari Fera, ternyata disini. Nak Dika kenapa membiarkan Fera ke sini” ucap ibu Fera.
            Aku hanya terdiam. Aku tak tahu mengapa aku terdiam. Aku seakan membeku memeluk tubuh Fera yang membujur kaku. Aku tak begitu ingat apa yang kulakukan. Yang pasti hal terakhir yang paling kuingat adalah senyuman terakhir Fera saat berada di pelukanku. Itulah senyuman Fera yang terakhir kalinya yang telah kulihat di sepanjang hidupku.
            Hari ini 40 hari setelah kepergian Fera. Aku masih terpukul. Aku tak mencintainya, tapi aku merasa kehilangan sesuatu yang amat berharga yang telah kusia-siakan. Aku hanya bisa berharap, semoga saja dia bahagia di sana. Semoga dia dipertemukan dengan orang yang bisa membahagiakannya di kehidupan yang baru. Aku tahu dan amat menyadari, aku hanya iba padamu. Tak ada cinta di dalam hati ini padanya, tapi mengapa aku merasakan kerinduan? Rindu akan pandangan wajahmu yang sedang menatapku. Rindu akan segala hal yang telah kau lakukan padaku. Aku merindukanmu saat ini, Fera. Selamat tinggal, tenang di alam sana.