Rabu, 25 Desember 2013

lanjutan Sebening Ketulusan Hati 7

 SEKEDAR MENGAGUMI
Suasana kehidupanku menjadi lebih berbeda. Nuansa yang sejuk dan permai, namun terkadang menggores luka dalam hati. Malam ini, aku seperti kelelawar, terbang saat kegelapan, saat orang lain tertidur lelap. Gila online telah merasuk ke peredaran darahku, begadang menjadi kebiasaan yang tidaklah aneh bagiku. Malam kemarin ku mendapatkan pesanmu, biasanya aku mendahului mengirimkanmu sms "Hey :)", namun malam itu tidak. "Aku bisa membuatmu, jatuh cinta kepadaku mesti kau tak cinta. Beri sedikit waktu biar cinta datang karna telah terbiasa",itulah isi pesan darinya. Aku tahu, itu adalah reff sebuah lirik lagu. Aku tak mengerti maksudnya mengirimkan pesan itu. Tapi yang pasti, di benakku terfikir bahwa kata-kata itu tidaklah dimaksudkan untuk pacarnya, karena akupun tahu, pasangan hidupnya telah mencintain seutuhnya. Dan pesan itupun mana mungkin untukku, karena akupun tahu, dia tidak mungkin mencintaiku. Malah aku yang amat menyayanginya.

Kubalas pesannya itu, namun dia menghilang. Tak ada balasan lagi. Maklumlah, aku tak bisa apa-apa. Dia tak membalas pesanku, itu sudah menjadi kebiasaan di malam hariku. Sakit memang, namun bagaimana? Dia bukan siapa-siapa bagiku. Aku tak berarti apapun baginya. Malam hari ini kulihat status media sosialnya. Yah, aku masih sangat ingat, statusnya itu berisi tentang hal yang intinya tentang menyayangi, entah pada siapa, yang pasti aku dapat merasakan bahwa kesedihan sedang menimpanya saat itu. Selanjutnya, pada dini harinya, ku lihat status dari seseorang yang lain, seolah-lah status sindiran balik atas status Putra. Aku mengerti.. Tetapi aku belum begitu yakin, tak ada fakta yang sebenarnya ku ketahui. Namun dengan menganalisis itu saja, aku dapat memperkirakan. Hatiku yang memperkirakan, hingga mataku pun mendapat informasi itu, dan jatuhlah air mata, hanya setetes. Aku tak menyadarinya, yang aku sadari adalah bahwa pada saat itu, aku tersenyum.

Siang itu sangat cerah. Aku berjalan berdua bersama Kania. Rencananya kami akan belajar fisika bersama. Hanya beberapa menit setelah berjalan dari sekolah, kamipun tiba di rumah. Saat tiba, kamipun belajar bersama. Di ruangan paling depan, dengan tirai krim bercorak bunga-bunga, tertempel foto-foto keluargaku di dinding. Kami berbincang-bincang sambil mengerjakan tugas. Tanpa sengaja, pembicaraanku mengarah ke sebuah curhatan dari Kania. Dia bercerita tentang cerita dari Novia, ya tentangnya, Putra. Panggilan etet dari seorang atat pun mulai kuketahui saat itu. Aku tersenyum, tertawa. Aku tahu, Kania menceritakan itu untuk bercanda-canda mengenai curhatan Novia, karena memang cerita itu lucu. Akupun ikut tertawa karena mendengar ceritanya. Namun hati kecilku terdiam. Aku teringat status mereka semalam. Aku tahu aku hancur, namun aku tak berani untuk memperlihatkannya kepada Kania.

Tepat pukul 14.00, Kania pun pulang. Kami bisa menyelesaikan fisika sebagaian. Entah mengapa aku merasa senang ketika bisa mengerjakan fisika. Terkadang aku pun dapat kesal dan marah-marah hanya karena tidak mendapatkan jawaban dari tantangan soal-soal fisika yang ada. Itulah cinta dan benci. Keduanya selalu saling menyertai. Namun 99% dari semua itu adalah cinta, 1%nya adalah benci yang memang hanya sesekali saja hadir, menurutku. Aku belum sholat dzuhur, mungkin karena terlalu keasyikan mengobrol dengan Kania. Kegelapan, itulah yang kumau saat ku menghadap kepada Allah. Akupun sembahyang. Air mataku menetes, mengingat semuanya. Kegelapan yang menyembunyikan air mataku saat terjatuh. Sejenak ku menelepon Ima. Aku menangis kepadanya, dia hanya menyemangatiku. Aku tetap saja berada dalam kelemahanku. Air matku telah dikuasai oleh goresan luka di hatiku. Namun aku tetap bertahan. Aku harus tetap pada pendiriannku yang awal, bahwa aku hanya ingin mengaguminya.

Aku tak peduli dia telah ada yang memiliki, karena aku hanya ingin mengaguminya, bukan memilikinya! Aku tak peduli teman dekatnya dapat merasakan kehangatan cintanya, karena aku hanya ingin mengaguminya, bukan merasakan cintanya! Aku tak peduli dia membenci diriku, karena aku ingin terus mengaguminya, bukan mendapatkan cinta darinya! Aku tak peduli orang berkata apapun tentangku, karena aku hanya ingin mengaguminya, bukan menjadi apa yang mereka katakan! Aku tak peduli mereka berkata apa kepada Putra, karena aku hanya ingin selamanya mengaguminya!

Aku bertahan, dengan senyuman ku kembali melangkah. Tak peduli apapun yang terjadi, dia akan selalu menjadi inspirasi di hidupku..

***
8

Tidak ada komentar:

Posting Komentar