Jumat, 27 Desember 2013

lanjutan Sebening Ketulusan Hati 8

RAPOR
Malam ini perbincangan baru di media sosial mulai bergemuruh. Pembagian rapor. Hasil yang berupa penilaian terhadap segala kegiatan belajar selama kurang lebih 6bulan. Malam ini sunyi, ku terbaring di atas tempat tidurku. Sesekali kulihat jam, sudah larut malam. Suara motor bergerung beberapa detik, terkadang bel sekolahan terdengar tengah malam ini. Aku masih tak percaya, waktu terasa begitu singkat. Besok pembagian rapor, dan aku merasa kurang siap. Aku tahu, untuk saat kelas xi ini, persaingan amat ketat. Apalagi dengan sikapku yang selalu saja diam, tidak terlalu aktif. Aku pun bukan pribadi yang begitu mudahnya mendeskripsikan suatu hal, aku tak bisa menjadi seseorang yang bawel, layaknya Kania yang begitu mudahnya mengatakan berbagai pengetahuannya.

Pagi ini cerah, pemandangan hiruk pikuk siswa dan para orang tua sudah mulai terlihat. Sudah pukul 7.30, pembagian rapor belum dimulai juga. Kami menunggu. Sekilas ku teringat dirinya, dia belum tiba juga di sekolah. Aku terdiam, hari-hariku di sekolah terasa tak berarti bila dia tidak hadir, walau hanya sekedar menampakan batang hidungnya. Hari ini kebahagiaanku mulai terasa kembali, aku mendapatkan peringkat pertama. Namun saat itu aku masih belum percaya, karena aku merasa bahwa aku akan menjadi yang kedua. Mungkin pada kesempatan kali ini menjadi anugrah bagiku. Ternyata memang benar yang kuduga, nilaiku dan Kania berbeda tipis. Dan sejak saat itu, Kania menjadi lebih menaikkan kembali kecepatannya untuk menggapai cita-citanya, Mungkin untuk saat ini, aku sedang dalam keberuntungan. Entahlah untuk yang selanjutnya.

Kembali ku tertegun. Dia belum datang juga. Ternyata, pasangan hidupnya yang datang. Entahlah, aku tak tahu pasti. Namun aku masih sangat ingat, dia tak diizinkan mengambil rapor itu karena bagaimanapun harus oleh orang tuanya, ataupun siswa itu sendiri. Rencananya, sepulang pembagian rapor kami akan pergi ke rumah Kania, dan kamipun langsung terbang ke sana. Perjalanannya cukup jauh juga.. Kamipun tiba, bercanda tawa di rumah Kania. Namun di hatiku terbesit kembali dirinya, mengapa dia tak ada. Kalau saja dia ada di sini, aku pasti akan sangat bahagia. Dengan keberadaannya saja ku dapat merasakan ketenangan. Aku seperti seorang pemabuk yang telah menjadi pecandu berat. Yah, aku telah dimabuk cinta dan kecanduan berat untuk selalu ingin berada di dekatmu, melihat wajahmu, merasakan kehangatan dirimu.

Sebelum pulang, kami bermain-main dulu ke rumah Novia. Aku fikir Iim yang menjemputku ke rumah Kania, namun ternyata bukan, Malah Adam yang menjemputku. Harusnya siapapun tahu, aku tak mau dibonceng oleh lelaki manpun selain ayahku, dan kakakku. Namun harus bagaimana lagi? untuk saat ini aku terpaksa, walau di dalam hati kumerasakan kekesalan sedikitnya. 
Sebenarnya, dalam hati kecilku, aku tak mau pergi ke rumah Novia. Entahlah, itu hanyalah perasaan hati kecilku yang tak terlalu kupedulikan. Mengapa? mungkin karena saal ku lihat kolam miliknya, ku teringat sesuatu. Ya, sesuatu yang telah berlalu, namun ketika ku mengingat itu, air mata hati ini setidaknya menetes kecil. Aku masih sangat ingat saat dia memakai kaos hitam, bercelana hitam, di hari ulang tahunnya, di tempat itu. Maaf, ini bukanlah perasaan benci. Aku hanya merasa termenung dengan kesendirianku. Tapi sebisa mungkin aku selalu mencoba untuk menghiraukan kesedihanku, setidaknya aku selalu berusaha. Maaf..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar